Untuk kamu yang tidak pernah merasa menjadi anak kesayangan.
Kalau hari ini kamu sudah menjadi orang tua, cobalah duduk sejenak. Pandangilah anak-anakmu.
Apakah ada satu anak yang begitu kamu sayangi, lalu ada anak lain yang benar-benar kamu benci?
Kalau jawabanmu "iya", tanyakan kembali pada dirimu, mengapa?
Jika jawabannya karena sikap atau perilaku anak tersebut, coba ingat kembali masa kecilmu.
Bukankah dulu kamu juga pernah nakal? Pernah membangkang? Pernah membuat orang tuamu kecewa?
Lalu, apakah karena kenakalanmu mereka berhenti menjadi orang tua? Apakah mereka tidak lagi memberimu makan, pakaian, tempat tinggal, atau pendidikan? Apakah mereka tidak lagi berusaha memenuhi kebutuhanmu?
Sekarang, coba kembali bertanya pada dirimu sendiri.
Kalau jawabanmu adalah, "Tidak. Saya tetap menyayangi anak saya. Walaupun ia tidak sesuai dengan harapan saya, saya tetap mencintainya. Memang sebagai manusia saya bisa marah, kesal, atau kecewa. Namun itu tidak menghilangkan rasa sayang saya."
Kalau begitu, boleh jadi hal yang sama juga terjadi pada orang tuamu.
Mungkin mereka tidak pernah membencimu. Mungkin mereka juga tidak pernah benar-benar menjadikan salah satu anak sebagai anak kesayangan.
Sering kali yang terjadi dalam keluarga bukanlah kurangnya kasih sayang, melainkan miskomunikasi. Anak salah memahami orang tua, dan orang tua pun terkadang salah memahami anak.
Selama orang tua masih berusaha memenuhi hak-hak anak—memberikan rasa aman, rasa nyaman, membantu saat anak kesulitan, memenuhi kebutuhan, serta mendidiknya—maka itu adalah tanda bahwa mereka menyayangi anaknya.
Itulah jika kita melihatnya dari sudut pandang psikologi.
Namun jika kita melihatnya dari sudut pandang agama, bisa jadi yang terjadi adalah salah satu tipu daya setan: menanamkan perasaan bahwa kita tidak dicintai, sehingga kita salah memahami bahasa kasih sayang orang tua.
Sudah ya...
Hari ini kita juga sudah menjadi orang tua.
Bagaimana perasaanmu jika suatu hari anakmu berkata, "Ibu lebih sayang kakak daripada aku."
Pasti terasa sedih, bukan?
Padahal kita sudah berusaha berlaku adil. Kita berusaha mencintai semua anak. Walaupun adil bukan berarti selalu sama rata. Sebab setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, dan setiap orang tua memberi sesuai kemampuan serta kebutuhan masing-masing anak.
Sudah ya...
Mari berikan yang terbaik untuk orang tua kita.
Masa muda, tenaga, dan kekuatan mereka telah habis untuk memperjuangkan hak-hak anak-anaknya. Hak untuk hidup, mendapatkan pengakuan, sandang, pangan, papan, rasa aman, pendidikan, dan begitu banyak hal lain yang mungkin sudah tidak lagi kita ingat satu per satu.
Untuk kamu yang sudah lama tidak mencium tangan orang tua, mulailah melakukannya kembali. Setidaknya setiap kali bertemu atau sebelum berpamitan.
Kalau kamu merasa tidak akan pernah mampu membalas air susu dan seluruh pengorbanan mereka, maka jangan pernah lelah mendoakan mereka, terutama setelah salatmu.
Sudah ya...
Lepaskan rasa kesalmu kepada orang tua.
Belajarlah berlapang dada. Berilah ruang di hatimu untuk menerima kekurangan mereka. Sebab mereka pun hanyalah manusia yang tidak luput dari salah.
Karena jika kita terus menghitung kekurangan orang tua, kita tidak akan pernah selesai.
Sudah ya...
Komentar
Posting Komentar