Anak dan Tanggung Jawab Orang tua
Anak dan Tanggung Jawab Orang tua
Hikmah dibalik amana anak yang Allah berikan
By ratri Priyandewi Jun 5, 2026
The gallery wall. Photo credit: Person
Kebahagiaan vs Beban
Sejatinya dalam konteks apapun, setiap nikmat itu ada tanggung jawab yang menyertainya. Misalkan saja, saat Allah memberikan nikmat rumah, baik itu rumah pribadi ataupun rumah kontrak, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk merawatnya. Bedanya, jika rumah pribadi kita memiliki tanggung jawab untuk mengurus surat-surat dan perpajakannya, rumah kontrakan ada kewajiban membayarnya setiap bulan ataupun tahunan.
Begitu juga saat sepasang suami istri, Allah berikan amanah seorang anak. Saat bayi mungil itu hadir ke dunia, maka ada rasa bahagia yang tidak terkira hadir dalam diri suami istri tersebut. Setiap senyuman si bayi yang begitu polos dan lucu seringkali membuat setiap lelah orang tuanya hilang seketika. Rumah yang tadinya sunyi berubah menjadi lebih hidup karena tangisan dan tawanya.
Dan semua itu, pastinya ada tanggung jawab yang menyertai. Mungkin sebelumnya belum ada pengeluaran untuk baju dan keperluan bayi, seketika ada anggaran itu dalam kehidupan mereka. Karena nikmat yang Allah kasih ini begitu besar, yaitu seorang anak manusia yang suatu waktu nanti bisa menjadi penerus kebaikan orang tuanya, maka tanggung jawab menjadi manusia yang lebih baik menjadi hal yang diberikan pada orang tuanya.
Orang tuanya yang sebelumnya sholatnya masih bolong-bolong, mereka berikhtiar menyempurnakan sholat 5 waktunya. Ibu yang sebelumnya tidak berjilbab, perlahan memperbaiki cara berpakaiannya. Ayah yang sebelumnya tidak pernah melakukan pekerjaan rumah saat mudanya, ia mulai terlihat sering membantu pekerjaan istrinya.
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan ternak yang melahirkan seekor hewan ternak dengan anggota tubuh yang lengkap, apakah kamu melihat ada yang cacat padanya?'" (HR. Bukhari No. 1385 dan Muslim No. 2658
Lalu, bagaimana jika ada sekelompok pasutri yang bersepakat tidak memiliki anak? Sebagian kita akan menjawab, “ya itu hak mereka”, tapi tidak seperti itu rupanya dalam islam.
"Menikahlah, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan ramainya jumlah kalian berbanding umat-umat yang lain pada hari kiamat, dan janganlah hidup membujang seperti (paderi) kaum Nasrani." (HR. Al-Baihaqi no. 13839).
Rasulullah saw, sangatlah visioner. Beliau sangat faham, bagaimanapun juga, kuantitas itu punya power. Karena sebaik apapun suatu kaum memanage kualitas sesamanya, kalau kuantitasnya tidak ada atau sedikit tidak akan pernah optimal. Dan itu terlihat diberbagai negara yang mulai gelisah, karena menurunnya tingkat kelahiran di tempatnya.
Komentar
Posting Komentar